Menggabungkan Berkas PDF Menggunakan pdftk

_Screenshot from 2018-08-13 16-11-55
Ilustrasi: PDF viewer pada Ubuntu

Saya menggunakan Inkscape dalam melakukan pekerjaan desain 2D vektor. Namun sayang sekali Inkscape tidak mendukung gambar vektor SVG dalam multi halaman. Hal ini lebih disebabkan karena spesifikasi SVG saat ini tidak mendukung dokumen multi halaman.

Sebelumnya di Mac saya biasa menggunakan Preview untuk keperluan ini. Tinggal diinsert PDF yang diinginkan, kemudian pada sidebar thumbnail-nya bisa di-drag ke atas ke bawah untuk urutan halamannya.

Bagaimana dengan di Ubuntu? Tidak usah khawatir karena kita bisa membuat berkas vektor multi halaman dalam format PDF menggunakan pdftk.

Untuk di Ubuntu instal terlebih dahulu:

$ sudo apt install pdftk

Untuk membuat PDF multi halaman terlebih dahulu simpan terlebih dahulu masing-masing berkas PDF dengan “save a copy” pada Inkscape, lalu pada direktori tempat Anda jalankan perintah:

$ pdftk *.pdf cat output nama-file.pdf

Keterangan
*.pdf wildcard untuk berkas-berkas pdf sumber yang akan Anda gabung. Saran saya pada saat membuat file PDF di Inkscape penamaan berkas dibuat berurutan seperti yang Anda inginkan agar urutan halaman sesuai juga dengan yang Anda inginkan.

Cara lain bisa dengan cara menuliskan masing-masing PDF sumber:

$ pdftk file1.pdf file2.pdf cat output nama-file.pdf

Kira-kira demikian. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Update 2018/08/20
Artikel yang lebih lengkap:
https://www.maketecheasier.com/combine-multiple-pdf-files-with-pdftk/

Widianto Nugroho

Setup Desktop Linux Harian (Versi Saya)

View this post on Instagram

#Gnome3 #GnomeShell menggunakan #GnomeExtension: (1) "Dash to panel", untuk memindahkan ikon-ikon aplikasi pada #dash ke #GnomePanel. Panel dapat dipindahkan posisinya ke bawah agar tampilan desktop menyerupai Windows atau Chrome OS (gambar 1); (2) "Dynamic panel transparency" untuk membuat efek panel menjadi transparan secara dinamis pada saat jendela-jendela aplikasi dalam keadaan tidak di-maximize. Bila di-maximize maka panel akan berwarna hitam (bandingkan gambar 1, 2 dan 3); (3) "Arc menu", seperti tombol "Start" pada Windows; (4) "Topicons plus" untuk memindahkan status aplikasi Dropbox dan Franz (untuk Whatsapp, Telegram, dan lain-lain) ke panel. Untuk tampilan default Gnome Shell, lihat gambar 4. Untuk mendownload Gnome Extension (bila belum tersedia pada sistem) dan mengaktifkannya, gunakan #GnomeTweaks: Tweaks > Extension. Untuk mengaktifkan ikon: Tweaks > Desktop, "On"kan "Icons on Desktop". #GnomeDesktop #Linux

A post shared by Widianto Nugroho (@widiantonugroho) on

Melanjutkan artikel sebelumnya, perihal memindahkan data menggunakan rsync, kita setup komputer yang akan kita gunakan sehari-hari untuk bekerja.

Setelah sistem operasi berhasil diinstall, yang saya lakukan adalah membalik arah scroll mouse (atau touchpad) menjadi natural scrolling. Namun berdasarkan artikel di sini, tambahkan perintah:

$ xinput set-prop {device id} {property number} -1 -1 -1

Selanjutnya, ikuti petunjuk dari artikel-artikel dengan kata kunci “things to do after installing Ubuntu [versi]”. Untuk yang saya install dan gunakan sehari-hari Ubuntu Gnome agak sedikit berbeda, namun paket apa yang harus diinstal relatif sama, yaitu:

Update/Upgrade

$ sudo apt update
$ sudo apt upgrade

Menginstal codec untuk menjalankan multimedia

$ sudo apt install ubuntu-restricted-extras

Selanjutnya, menginstal paket-paket aplikasi yang dibutuhkan, untuk kebutuhan saya: Inkscape, Gimp, Blender.

Kemudian menghapus/menambah shortcut aplikasi pada “Favorites”, semacam “Dock” pada Mac. Favorites secara default berada di sisi kiri layar desktop.

Yak, itu saja nampaknya. Semoga ada manfaatnya.

PS: Untuk ilustasi di atas, desktop dikustomisasi menggunakan Gnome Extension, silakan dicoba bila berminat :)

Widianto Nugroho

Memindahkan Data Menggunakan rsync

_Screenshot from 2018-08-10 09-48-10
Proses rsync

Dalam kegiatan pekerjaan sehari-hari adakalanya karena satu dan lain hal kita harus berganti atau mengganti komputer.

Beberapa hari yang lalu, komputer yang saya pakai tiba-tiba mengalami masalah pada power supply sehingga tidak mau dinyalakan. Solusinya diganti menggunakan komputer lain.

Untuk keperluan ini maka kita setidaknya perlu melakukan 2 hal:

  • Membackup dan memindahkan data
  • Mensetup komputer baru sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan

Di artikel ini saya akan membahas yang pertama yaitu membackup dan memindahkan data di/dari/ke komputer dengan sistem operasi Linux (Ubuntu Gnome).

Untuk data yang tidak seberapa banyak maka cukup diperlukan copy-paste. Bagaimana bila datanya berpuluh-puluh giga?

Bila data yang akan kita pindahkan mencapai puluahm giga atau lebih kita perlu cara yang praktis dan memudahkan kita. Pastinya memakan waktu lama, perlu di-stop terlebih dahulu dan kemudian di-resume kembali, dan seterusnya.

Tool atau utilitas yang saya gunakan di Linux adalah rsync. Rsync adalah perintah baris (command line) sehingga dijalankan melalui terminal.

Perintah rsync dapat digunakan untuk memindahkan data di dalam komputer lokal, misal dari eksternal hard disk ke internal hard disk, atau data di lokal ke host lain melalui jaringan atau LAN.

Perintah rsync (dari manual):

Local:  rsync [OPTION...] SRC... [DEST]

Access via remote shell:
Pull: rsync [OPTION...] [USER@]HOST:SRC... [DEST]
Push: rsync [OPTION...] SRC... [USER@]HOST:DEST

Access via rsync daemon:
Pull: rsync [OPTION...] [USER@]HOST::SRC... [DEST]
rsync [OPTION...] rsync://[USER@]HOST[:PORT]/SRC... [DEST]
Push: rsync [OPTION...] SRC... [USER@]HOST::DEST
rsync [OPTION...] SRC... rsync://[USER@]HOST[:PORT]/DEST

Jadi, format perintahnya adalah:

$ rsync [OPSI...] SUMBER... [TUJUAN]

Untuk kebutuhan saya, yang saya lakukan adalah (melalui remote shell atau ssh):

Pull

$ rsync -azP --no-links --exclude=".*" --exclude=".*/" username@[IP ADDRESS]:/path/ke/dir/sumber /path/ke/dir/tujuan

Push

$ rsync -azP --no-links --exclude=".*" --exclude=".*/" /path/ke/dir/sumber username@[IP ADDRESS]:/path/ke/dir/tujuan

Selanjutnya host remote akan meminta password dan rsync akan memproses.

Keterangan Opsi:

-a untuk archive mode
-z untuk menkompress data pada saat transfer
-P (P besar) untuk memperlihatkan progress pada saat transfer
--no-links untuk tidak mentransfer file atau direktori yang berupa symbolic link (file atau direktori yang sebetulnya ada di lokasi lain)
--exlcude=".*" untuk tidak mentransfer file yang disembunyikan (nama file diawali tanda titik)
--exclude=".*/" untuk tidak mentransfer direktori yang disembunyikan (nama direktori diawali tanda titik)

Untuk menstop paksa gunakan Ctrl+C. Untuk melanjutkan ulangi perintah yang sama. Rsync akan memeriksa keseluruhan proses yang sudah dilakukan, dan kemudian melanjutkannya.

Kita tidak perlu diminta memilih men-skip atau menimpa file yang sudah dikopi sebelumnya. Rsync sudah melakukannya untuk Anda dan melanjutkan apabila ada file yang terpotong di tengah-tengah pada saat transfer terhenti.

Oya, rsync biasanya sudah tersedia di berbagai OS Linux. Jadi Anda tidak usah menginstalnya terlebih dahulu.

Untuk mensetup, akan saya bagi di artikel selanjutnya. Demikian, mudah-mudahan ada manfaatnya.

Widianto Nugroho
widiantonugroho.com

Campus Center ITB

Liat-liat proyek Campus Center ITB. Gedung ini terletak di lokasi yang sebelumnya merupakan gedung Student Center. CC terdiri dari dua sayap barat timur, di antara kedua sayap terdapat “rotunda”, bagian selatannya ada tempat buat kongkow-kongkow. Lokasi yang cocok buat hang out “barudak konekting”, meminjam istilah dari Bismo buat para wifi-ers/gadgeters. Tapi ada yang aneh di ruang latihan bersama untuk mahasiswa, yaitu pintu masuknya yang terlalu rendah. Mungkin karena dibagian atasnya merupakan podium. Demikian hasil melihat-lihat dan berfoto-foto bersama di lokasi proyek. Thanks buat Reza “Bejah” yang membuat kami bisa memasuki lokasi proyek.

iBook


2005_0322_113224

Originally uploaded by w i d i.

akhirnya kesampaian juga pake iBook. kalo dulu saya heran kok para penguna Mac begitu membangga-banggakan kehebatan Mac dibanding Windows. sekarang saya mulai tau asiknya pake Mac. berhubung yang saya pake iBook 12inch, maka untuk pekerjaan yang butuh layar lebar saya harus switch ke Windows yang ada di sebelah. duh sebel deh sekarang kalo liat Windows :P No offense pls…

Disclaimer: kabel-kabel utp yang berserakan disebelah itu nggak saya pake lho… :) iBook-nya pake AirPort Extreme buat ber-WiFi-ria di KMRG atau di manapun yang ada hot spot-nya. bye-bye presario…