Ubuntu 18.04 “Bionic Beaver”

Ubuntu 18.04
By Minecraftgamerpc69 [CC BY-SA 4.0 or GPL], from Wikimedia Commons

Ubuntu 18.04 “Bionic Beaver” sudah dalam waktu dekat ini akan di rilis. Rilis ini merupakan rilis LTS (Long Time Support) Ubuntu pertama yang menggunakan Gnome Desktop Environment setelah tidak lagi menggunakan Unity yang dimulai dari rilis sebelumnya yaitu 17.10 Artful Aardvark.

Apa saja yang ada di rilis ini dapat dibaca di:
https://wiki.ubuntu.com/BionicBeaver/ReleaseNotes

Apakah saya akan mengupgrade sistem saya, khususnya desktop yang dipakai produksi? Kemungkinan tidak dalam waktu dekat. Namun mungkin akan coba-coba dulu dan mengikuti update-update berita dan posting blog perihal rilis ini.

Mengubah Tampilan Desktop Gnome Menggunakan Gnome Tweaks

#Gnome3 #GnomeShell menggunakan #GnomeExtension: (1) "Dash to panel", untuk memindahkan ikon-ikon aplikasi pada #dash ke #GnomePanel. Panel dapat dipindahkan posisinya ke bawah agar tampilan desktop menyerupai Windows atau Chrome OS (gambar 1); (2) "Dynamic panel transparency" untuk membuat efek panel menjadi transparan secara dinamis pada saat jendela-jendela aplikasi dalam keadaan tidak di-maximize. Bila di-maximize maka panel akan berwarna hitam (bandingkan gambar 1, 2 dan 3); (3) "Arc menu", seperti tombol "Start" pada Windows; (4) "Topicons plus" untuk memindahkan status aplikasi Dropbox dan Franz (untuk Whatsapp, Telegram, dan lain-lain) ke panel. Untuk tampilan default Gnome Shell, lihat gambar 4. Untuk mendownload Gnome Extension (bila belum tersedia pada sistem) dan mengaktifkannya, gunakan #GnomeTweaks: Tweaks > Extension. Untuk mengaktifkan ikon: Tweaks > Desktop, "On"kan "Icons on Desktop". #GnomeDesktop #Linux

A post shared by Widianto Nugroho (@widiantonugroho) on

Desktop sumber terbuka umumnya dapat dikustomisasi sesuai dengan kebutuhan ataupun keinginan dan selera kita.

Kustomisasi atau mengubah tampilan pada Gnome dapat kita lakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan menginstal theme (theme GTk), atau dengan melakukan tweaking menggunakan Gnome Tweaks.

Dalam artikel ini akan kita coba dengan menggunakan Gnome Tweaks.

Untuk mulai melakukannya pertama-tama Linux dengan lingkungan desktop (desktop environment atau DE) Gnome telah terinstal.

Gnome Tweaks adalah fitur bawaannya yang umumnya sudah terinstal pada saat kita menginstal OS dengan DE Gnome.

Lalu buka Gnome Tweaks (gunakan shortcut tombol Windows pada PC). Setelah Gnome Tweaks muncul, pada kolom sebelah kiri klik “Extension”.

Maka selanjutnya Anda akan melihat berbagai extension yang telah tersedia.

Untuk kebutuhan kita kali ini, kita akan membuat tampilan default Gnome menjadi mirip seperti Windows atau Chrome OS, dengan panel utama yang berada pada bagian bawah desktop.

Seperti kita ketahui tampilan default Gnome terdiri dari: (1) Gnome Shell default dengan tampilan panel di bagian atas dan sudah tidak lagi meminjam metafora desktop (bagian atas meja tempat kita bekerja secara fisik), kemudian (2) Gnome Classic berupa tampilan desktop Gnome seperti pada versi sebelumnya, yaitu versi 2 dengan dua buah panel di atas dan di bawah layar desktop.

Baiklah kembali ke langkah-langkah yang akan kita lakukan, extension yang dibutuhkan: (1) “Dash to panel”, untuk memindahkan ikon-ikon aplikasi pada #dash ke #GnomePanel. Panel dapat dipindahkan posisinya ke bawah agar tampilan desktop menyerupai Windows atau Chrome OS (gambar 1); (2) “Dynamic panel transparency” untuk membuat efek panel menjadi transparan secara dinamis pada saat jendela-jendela aplikasi dalam keadaan tidak di-maximize. Bila di-maximize maka panel akan berwarna hitam (bandingkan gambar 1, 2 dan 3); (3) “Arc menu”, seperti tombol “Start” pada Windows; (4) “Topicons plus” untuk memindahkan status aplikasi Dropbox dan Franz (untuk Whatsapp, Telegram, dan lain-lain) ke panel.

Ke empat extension yang dibutuhkan di atas belum tersedia pada instalasi default maka Anda perlu instal extension dari web, klik pada bagian bawah “Install Shell Extension”, klik “Get more extension” yang akan membuka browser ke https://extensions.gnome.org/

Untuk diketahui, extension ini bekerja terintegrasi dengan browser Firefox, Anda dapat menginstal dengan meng-“on”-kan tombol pada extension yang akan Anda instal dan Firefox akan mendownload dan menginstalnya untuk Anda.

Jadi silakan aktifkan empat extension di atas. Urutannya tidak perlu berurutan seperti yang disebutkan di atas. Silakan bereksperimen dan membuat tampilan desktop Linux Anda menjadi lebih nyaman untuk bekerja.

— Widianto Nugroho

 

Mencoba Atau Menggunakan Linux?

Pilih yang lts #ubuntu #gnome #desktop

A post shared by Widianto Nugroho (@widiantonugroho) on

Seperti yang saya sampaikan pada posting sebelumnya, mencoba-coba Linux (GNU/Linux) itu sungguh mengasyikkan. Anda akan menemukan banyak sekali distribusi Linux (distro) yang ingin Anda coba. Mulai dari berbagai distro yang ada, maupun lingkungan desktop (DE) atau antar muka grafis yang tersedia bersama dengan distro-distro tersebut.

Untuk DE yang sudah sangat established, sebut saja misalnya KDE dan Gnome, selain juga Xfce, Lxde, dan lain sebagainya, semuanya membuat saya pada waktu itu ingin mencoba dan mengutak-atiknya.

Untuk coba-coba ini biasanya saya gunakan partisi kosong di hardisk dan saya buat multi-boot. Atau yang lebih praktis untuk kepentingan ujicoba lakukan coba-coba ini dengan menggunakan virtual machine, misal VirtualBox.

Namun jangan lupa, setelah proses mencoba-coba, mulailah untuk mendayagunakan Linux dan DE yang nyaman untuk Anda dalam aktivitas Anda sehari-hari dalam waktu yang lama.

Untuk pemakaian dalam jangka waktu yang lama misal Anda menggunakan Ubuntu sebaiknya gunakan rilis dengan label LTS atau long term support. Anda akan mendapatkan sistem yang stabil dibandingkan rilis yang biasa.

Versi rilis Ubuntu diberi nomor berupa angka tahun, contoh untuk rilis di tahun 2018 adalah 18, dan bulan rilis. Ubuntu dirilis setiap bulan April (04) dan Oktober (10), atau setiap enam bulan sekali. Jadi versi rilis yang akan datang relatif terhadap artikel ini ditulis adalah versi 18.04. Selain nomor versi tersebut, rilis Ubuntu juga diberi nama atau code name. Contohnya untuk versi 18.04 dinamai “Bionic Beaver”.

Untuk Distro lain kode dan penamaannya tentu berbeda-beda. Tergantung dari pola perilisannya. Namun tentu ada yang didukung dalam waktu yang relatif lama semacam LTS ini.

Dukungan update untuk versi LTS diberikan selama lima tahun. Ini artinya Anda dapat menggunakan Ubuntu versi LTS untuk selama lima tahun. Ubuntu versi LTS dirilis setiap dua tahun. Ubuntu 18.04 termasuk versi LTS. Versi LTS sebelumnya adalah 16.04.

Keuntungan versi LTS adalah kestabilan, namun dalam versi LTS ini aplikasi yang tersedia secara default biasanya bukan versi terbaru (Ya jelaslah, yang versi terbaru kan biasanya kurang stabil, hehe …).

Untuk Ubuntu di komputer yang saya pakai sehari-hari, saya gunakan Ubuntu 16.04. Pada saat nanti versi 18.04 dirilis, kemungkinan tidak akan saya upgrade ke 18.04, namun saya berencana untuk mencoba lagi distro yang lain.

Demikian, mudah-mudahan ada manfaatnya.

— Widianto Nugroho

Artikel ini ditulis menggunakan Centos 7.

Produktivitas Sehari-hari Dengan Linux

Saya menggunakan Linux (nama lengkapnya GNU/Linux) sudah sekitar 10 tahun lebih. Lihat di sini. Lihat juga foto-foto dan screenshotnya di sini.

Pada awalnya mencoba menginstal Linux setelah sebelumnya secara iseng-iseng saja ingin mencoba menginstal desktop di FreeBSD (bukan Linux). Lihat foto-fotonya di sini

Di FreeBSD, pada saat itu bila ingin memasang lingkungan desktop agak kurang praktis kareana harus menginstal dan menkonfigurasi sendiri. Karena menginstal OS nya sendiri melalui antar muka berbasis teks. Entah kalau sekarang. Mungkin masih ya? Dari sini saya jadi tertarik dengan lingkungan desktop sumber terbuka. Pada waktu itu saya mencoba KDE dan Gnome di FreeBSD.

Sementara pada keluarga Linux sudah banyak tersedia installer OS yang sudah berupa antar muka grafis yang lebih mudah digunakan. dengan lingkungan desktop yang langsung dapat diinstal dengan mudah.

Pada masa-masa itu saya sempat mencoba hampir semua distro Linux, mulai dari Red Hat Linux –bedakan dengan Red Hat Enterprise Linux atau RHEL yang merupakan distro dan servis komersial berbayar, kemudian Debian dan lain-lain. Setelah saya telusuri lagi mengenai masa-masa mencoba Red Hat Linux ini lebih lama dari yang sempat saya dokumentasikan di Flickr.

Perlu saya sampaikan bahwa meskipun menggunakan Linux, saya bukanlah orang yang berlatar belakang teknis dan paham apa itu kernel dan semacamnya. Saya hanyalah pengguna biasa saja, dan latar belakang saya adalah seni rupa.

Baik saya teruskan kembali perihal menggunakan Linux untuk produktifitas sehari-hari. Untuk keperluan pekerjaan sehari-hari saya menggunakan dua OS yaitu Mac OS X (sekarang kembali menggunakan nama MacOS) yang ada di laptop MacBook, dan Linux di komputer desktop.

Untuk pekerjaan di laptop, sebagai desainer saat ini saya praktis hanya menggunakan perangkat lunak sumber terbuka yaitu Inkscape (Inkscape tersedia juga di Mac). Sehingga dengan demikian untuk berkas-berkas pekerjaan dapat sepenuhnya inter operable dengan desktop Linux.

Inkscape bagi saya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan desain. Khususnya dalam membuat dan menyunting berkas-berkas grafis vektor dalam format SVG (scalable vector graphics). Beberapa hasil yang sudah dibuat dapat dilihat di sini. Walaupun pada prakteknya untuk desain cetak pada saat diperlukan untuk dicetak di tempat-tempat layanan cetak harus diakali sedemikian karena umumnya di tempat-tempat tersebut menggunakan perangkat lunak komersial.

Untuk kebutuhan lainnya misal pengolah kata ataupun spreadsheet sudah tidak ada masalah apabila menggunakan LibreOffice, setidaknya bagi saya :)

Demikian tulisan singkat pengalaman saya. Mudah-mudahan bermanfaat.

— Widianto Nugroho

IT Leadership Forum 2016 – “Smart Public Services”

Tanggal 20 sampai dengan 22 April 2016 yang lalu, saya mewakili tempat saya bekerja diundang oleh VMware dan iTech Magazine untuk menghadiri acara IT Leadership Forum 2016 (ITLF 2016). Acara ini dilaksanakan di RIMBA Jimbaran Bali, sebuah hotel/resort yang sangat eksotik, di bagian selatan pulau Bali.
Lanjutkan membaca “IT Leadership Forum 2016 – “Smart Public Services””

Aplikasi Free Software untuk Pekerjaan Grafis di Mac

Produk Apple khususnya Mac terkenal nyaman untuk digunakan untuk kebutuhan bekerja sehari-hari maupun untuk berbagai keperluan lainnya seperti untuk hiburan. Sebagai media hiburan pada tingkat tertentu sudah cukup dengan menggunakan berbagai aplikasi bawaannya seperti Photos, Quicktime, dll. Lalu bagaimana untuk keperluan produksi seperti misalnya kebutuhan pekerjaan desain grafis? Untuk pekerjaan profesional memang sebaiknya menggunakan berbagai aplikasi profesional juga. Anda tinggal membeli aplikasi yang ada butuhkan dan bekerja semaksimal mungkin memanfaatkan aplikasi yang anda beli tersebut. Namun ada harga ada rupa. Aplikasi semacam produk-produk Adobe ini harganya mahal.
Lanjutkan membaca “Aplikasi Free Software untuk Pekerjaan Grafis di Mac”

Membalikkan Arah Scroll Mouse/Trackpad di Linux Menjadi “Natural Scrolling”

Bagi yang terbiasa dengan suatu pola atau kebiasaan tertentu bila pada saat yang bersamaan juga melakukan pola yang berlawanan untuk aktivitas yang sama maka kita akan mudah tanpa sengaja melakukan kesalahan. Apa sih ini? Begini, ini tentang suatu aktivitas terdengar sepele namun penting, yaitu melakukan scrolling mouse/trackpad.
Lanjutkan membaca “Membalikkan Arah Scroll Mouse/Trackpad di Linux Menjadi “Natural Scrolling””

Menonaktifkan Keyboard Internal Laptop (ThinkPad Edge E135/Ubuntu)

Brand laptop Thinkpad dikenal dengan keunggulannya yang tahan banting, cocok untuk dipakai dengan perawatan minimum. Kami memberikan laptop Thinkpad, tipe Edge E135 untuk digunakan oleh anak-anak.

Dengan penggunaan oleh anak-anak yang cenderung kurang hati-hati, pada suatu hari terjadilah kejadian satu gelas air teh manis yang tumpah membasahi keyboard. Laptop berhasil diselamatkan, untuk beberapa hari kondisi masih normal seperti biasa. Namun sesudah itu terjadi situasi di mana tombol enter tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.

Lanjutkan membaca “Menonaktifkan Keyboard Internal Laptop (ThinkPad Edge E135/Ubuntu)”