Arsip Kategori: Design

Mengubah Tampilan Desktop Gnome Menggunakan Gnome Tweaks

#Gnome3 #GnomeShell menggunakan #GnomeExtension: (1) "Dash to panel", untuk memindahkan ikon-ikon aplikasi pada #dash ke #GnomePanel. Panel dapat dipindahkan posisinya ke bawah agar tampilan desktop menyerupai Windows atau Chrome OS (gambar 1); (2) "Dynamic panel transparency" untuk membuat efek panel menjadi transparan secara dinamis pada saat jendela-jendela aplikasi dalam keadaan tidak di-maximize. Bila di-maximize maka panel akan berwarna hitam (bandingkan gambar 1, 2 dan 3); (3) "Arc menu", seperti tombol "Start" pada Windows; (4) "Topicons plus" untuk memindahkan status aplikasi Dropbox dan Franz (untuk Whatsapp, Telegram, dan lain-lain) ke panel. Untuk tampilan default Gnome Shell, lihat gambar 4. Untuk mendownload Gnome Extension (bila belum tersedia pada sistem) dan mengaktifkannya, gunakan #GnomeTweaks: Tweaks > Extension. Untuk mengaktifkan ikon: Tweaks > Desktop, "On"kan "Icons on Desktop". #GnomeDesktop #Linux

A post shared by Widianto Nugroho (@widiantonugroho) on

Desktop sumber terbuka umumnya dapat dikustomisasi sesuai dengan kebutuhan ataupun keinginan dan selera kita.

Kustomisasi atau mengubah tampilan pada Gnome dapat kita lakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan menginstal theme (theme GTk), atau dengan melakukan tweaking menggunakan Gnome Tweaks.

Dalam artikel ini akan kita coba dengan menggunakan Gnome Tweaks.

Untuk mulai melakukannya pertama-tama Linux dengan lingkungan desktop (desktop environment atau DE) Gnome telah terinstal.

Gnome Tweaks adalah fitur bawaannya yang umumnya sudah terinstal pada saat kita menginstal OS dengan DE Gnome.

Lalu buka Gnome Tweaks (gunakan shortcut tombol Windows pada PC). Setelah Gnome Tweaks muncul, pada kolom sebelah kiri klik “Extension”.

Maka selanjutnya Anda akan melihat berbagai extension yang telah tersedia.

Untuk kebutuhan kita kali ini, kita akan membuat tampilan default Gnome menjadi mirip seperti Windows atau Chrome OS, dengan panel utama yang berada pada bagian bawah desktop.

Seperti kita ketahui tampilan default Gnome terdiri dari: (1) Gnome Shell default dengan tampilan panel di bagian atas dan sudah tidak lagi meminjam metafora desktop (bagian atas meja tempat kita bekerja secara fisik), kemudian (2) Gnome Classic berupa tampilan desktop Gnome seperti pada versi sebelumnya, yaitu versi 2 dengan dua buah panel di atas dan di bawah layar desktop.

Baiklah kembali ke langkah-langkah yang akan kita lakukan, extension yang dibutuhkan: (1) “Dash to panel”, untuk memindahkan ikon-ikon aplikasi pada #dash ke #GnomePanel. Panel dapat dipindahkan posisinya ke bawah agar tampilan desktop menyerupai Windows atau Chrome OS (gambar 1); (2) “Dynamic panel transparency” untuk membuat efek panel menjadi transparan secara dinamis pada saat jendela-jendela aplikasi dalam keadaan tidak di-maximize. Bila di-maximize maka panel akan berwarna hitam (bandingkan gambar 1, 2 dan 3); (3) “Arc menu”, seperti tombol “Start” pada Windows; (4) “Topicons plus” untuk memindahkan status aplikasi Dropbox dan Franz (untuk Whatsapp, Telegram, dan lain-lain) ke panel.

Ke empat extension yang dibutuhkan di atas belum tersedia pada instalasi default maka Anda perlu instal extension dari web, klik pada bagian bawah “Install Shell Extension”, klik “Get more extension” yang akan membuka browser ke https://extensions.gnome.org/

Untuk diketahui, extension ini bekerja terintegrasi dengan browser Firefox, Anda dapat menginstal dengan meng-“on”-kan tombol pada extension yang akan Anda instal dan Firefox akan mendownload dan menginstalnya untuk Anda.

Jadi silakan aktifkan empat extension di atas. Urutannya tidak perlu berurutan seperti yang disebutkan di atas. Silakan bereksperimen dan membuat tampilan desktop Linux Anda menjadi lebih nyaman untuk bekerja.

— Widianto Nugroho

 

The 3rd ASEF Art Camp 2005

Di Hotel Preanger pada hari senin (8/8/05) bertemu dan berdiskusi, atau lebih tepatnya ngobrol-ngobrol dengan Rob van Kranenburg, salah seorang pembicara dalam rangkaian kegiatan ASEF Art Camp 2005. Rob berbicara banyak mengenai strategi-strategi teknologi baru, misal ubicomp dan RFID, hubungan antara formal dan informal dalam politik budaya dan ekonomi, dan persyaratan untuk ekonomi kultural yang berkelanjutan. Sebelum ketemu Rob, saya dan Ninta sempet ngobrol-ngobrol dengan Tanto, dari BCfNMA, selaku host dari kegiatan Art Camp ini.

Lukisan Lama

Satu lagi… kali ini dengan media cat minyak pada kanvas. Lukisan cewek “Tanpa Judul”. Dibuat sekitar tahun 1990, ketika saya masih SMA (Sekarang SMU). Obyeknya dari iklan di majalah.

2004_0626_090203_lukisan_cewek.jpg

Drawing Lama

Kumpulan drawing lama nemu dari file-file lama. Hard copy nya mau saya cari lagi. Udah lama banget saya ingin melanjutkan lagi kegiatan gambar-menggambar. Sekalian ngumpulin karya-karya dan bikin karya baru buat portfolio.

1996sketchb-01-thumb.jpg 1996sketchb-02-thumb.jpg 1996sketchb-03-thumb.jpg 1996sketchb-04-thumb.jpg 1996sketchb-05-thumb.jpg
1996sketchb-06-thumb.jpg 1996still-life01-thumb.jpg 1996studio-assign01-thumb.jpg 1996studio-assign03-thumb.jpg 1_ddd.gif

Untuk melihat gambar dengan ukuran yang lebih besar klik pada thumbnail di atas. Gambar-gambar tersebut dibuat sekitar tahun 1996.