Desain Ulang Sampul Buku Tentang Polymath

View this post on Instagram

#Polymath

A post shared by Widianto Nugroho (@widiantonugroho) on

Disclaimer: Bukan eksperimen, hanya iseng belaka.

Desain simpel-simpel saja berdasarkan sampul buku berjudul “De Polymathia tractatio: integri operis de studiis veterum”, atau dalam bahasa Inggris “knowledge of various matters, drawn from all kinds of studies”. Buku ini ditulis oleh Johann von Wower, terbit tahun 1603.

Berikut ini tangkapan layarnya:

Memindahkan Data Menggunakan rsync

_Screenshot from 2018-08-10 09-48-10
Proses rsync

Dalam kegiatan pekerjaan sehari-hari adakalanya karena satu dan lain hal kita harus berganti atau mengganti komputer.

Beberapa hari yang lalu, komputer yang saya pakai tiba-tiba mengalami masalah pada power supply sehingga tidak mau dinyalakan. Solusinya diganti menggunakan komputer lain.

Untuk keperluan ini maka kita setidaknya perlu melakukan 2 hal:

  • Membackup dan memindahkan data
  • Mensetup komputer baru sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan

Di artikel ini saya akan membahas yang pertama yaitu membackup dan memindahkan data di/dari/ke komputer dengan sistem operasi Linux (Ubuntu Gnome).

Untuk data yang tidak seberapa banyak maka cukup diperlukan copy-paste. Bagaimana bila datanya berpuluh-puluh giga?

Bila data yang akan kita pindahkan mencapai puluahm giga atau lebih kita perlu cara yang praktis dan memudahkan kita. Pastinya memakan waktu lama, perlu di-stop terlebih dahulu dan kemudian di-resume kembali, dan seterusnya.

Tool atau utilitas yang saya gunakan di Linux adalah rsync. Rsync adalah perintah baris (command line) sehingga dijalankan melalui terminal.

Perintah rsync dapat digunakan untuk memindahkan data di dalam komputer lokal, misal dari eksternal hard disk ke internal hard disk, atau data di lokal ke host lain melalui jaringan atau LAN.

Perintah rsync (dari manual):

Local:  rsync [OPTION...] SRC... [DEST]

Access via remote shell:
Pull: rsync [OPTION...] [USER@]HOST:SRC... [DEST]
Push: rsync [OPTION...] SRC... [USER@]HOST:DEST

Access via rsync daemon:
Pull: rsync [OPTION...] [USER@]HOST::SRC... [DEST]
rsync [OPTION...] rsync://[USER@]HOST[:PORT]/SRC... [DEST]
Push: rsync [OPTION...] SRC... [USER@]HOST::DEST
rsync [OPTION...] SRC... rsync://[USER@]HOST[:PORT]/DEST

Jadi, format perintahnya adalah:

$ rsync [OPSI...] SUMBER... [TUJUAN]

Untuk kebutuhan saya, yang saya lakukan adalah (melalui remote shell atau ssh):

Pull

$ rsync -azP --no-links --exclude=".*" --exclude=".*/" username@[IP ADDRESS]:/path/ke/dir/sumber /path/ke/dir/tujuan

Push

$ rsync -azP --no-links --exclude=".*" --exclude=".*/" /path/ke/dir/sumber username@[IP ADDRESS]:/path/ke/dir/tujuan

Selanjutnya host remote akan meminta password dan rsync akan memproses.

Keterangan Opsi:

-a untuk archive mode
-z untuk menkompress data pada saat transfer
-P (P besar) untuk memperlihatkan progress pada saat transfer
--no-links untuk tidak mentransfer file atau direktori yang berupa symbolic link (file atau direktori yang sebetulnya ada di lokasi lain)
--exlcude=".*" untuk tidak mentransfer file yang disembunyikan (nama file diawali tanda titik)
--exclude=".*/" untuk tidak mentransfer direktori yang disembunyikan (nama direktori diawali tanda titik)

Untuk menstop paksa gunakan Ctrl+C. Untuk melanjutkan ulangi perintah yang sama. Rsync akan memeriksa keseluruhan proses yang sudah dilakukan, dan kemudian melanjutkannya.

Kita tidak perlu diminta memilih men-skip atau menimpa file yang sudah dikopi sebelumnya. Rsync sudah melakukannya untuk Anda dan melanjutkan apabila ada file yang terpotong di tengah-tengah pada saat transfer terhenti.

Oya, rsync biasanya sudah tersedia di berbagai OS Linux. Jadi Anda tidak usah menginstalnya terlebih dahulu.

Untuk mensetup, akan saya bagi di artikel selanjutnya. Demikian, mudah-mudahan ada manfaatnya.

Widianto Nugroho
widiantonugroho.com

Mencoba Desain Brutalisme pada widiantonugroho.com

Mencoba pendekatan brutalisme pada desain web widiantonugroho.com.

Thanks to CSS karena hal ini bisa dilakukan hanya dengan mengubah beberapa baris saja pada berkas kode CSS 😀

#brutalist #raw #webdesign #experiment

Hentikan Ujaran Kebencian, Sebarkan Cinta <3

bjs-0103

Menanggapi berbagai ujaran kebencian yang mencemari media sosial kita, saya cuma bisa bilang “jangan terlalu membenci, nanti malah jadi suka”.

Sebab sesungguhnya batas antara rasa benci dan rasa suka (baca: cinta) itu begitu tipis, katanya. Kata siapa? Entahlah :)

Penjelasannya kurang lebih begini: sesuatu yang berlebihan lama-lama akan sampai pada titik jenuh dan akhirnya membuat kita bosan. Kemudian karena bosan, kita akan mencari hal lain yang justru berkebalikan dengan yang sudah berlebihan tersebut.

Terlalu sederhana? Memang, hehe. Bagaimana menurut Anda?

#HentikanUjaranKebencian

Tampilan Baru Web MIT.EDU

web-mit-edu

Setelah sekian lama ditunggu-tunggu, web Massachusetts Institute of Technology atau yang beken dengan singkatan MIT, salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia itu kini hadir dengan tampilan baru. Check this out!

Masih tetap dengan menampilkan “Spotlight” sebagai ciri khasnya, namun sekarang dengan tampilan yang full memenuhi seluruh layar, dan juga “responsive” mengikuti ukuran layar.

Web MIT, dan juga web berbagai Universitas di dalam dan luar negeri menjadi benchmark pada saat saya dulu merancang dan mengelola web ITB (2000-2010).

Informasi mengenai web baru MIT ini dapat dibaca di sini.

Kenapa Kita Gampang Percaya Teori Konspirasi?

Sebuah video infografis yang menjelaskan kenapa banyak orang gampang percaya teori konspirasi. Video dari channel Youtube “Kok Bisa?“.

Link: